Birrul Walidain


Sebentar lagi, kita akan memperingati hari Ibu, yaitu pada tanggal 22 Desember. Peringatan tersebut, tidak lain untuk menyadarkan kita seberapa besar perjuangan kedua orang tua kita, terutama seorang Ibu yang sudah berusaha menghadirkan kita untuk bernafas di dunia ini. Berjuang bertaruh nyawa hanya untuk melahirkan kita di dunia, merawat dan menjaga dengan penuh kesabaran serta kelembutan.

Seseorang boleh jadi tidak memiliki anak, namun tidak ada seorang pun yang lahir di dunia ini tanpa orang tua. Jadi setiap orang pasti memiliki orang tua. Dan birrul walidain merupakan salah satu ajaran Islam yang menunjukkkan perilaku berbakti kita kepada kedua orang tua. Hukumnya yaitu fardhu ‘ain bagi setiap muslim, meskipun seandainya kedua orang tua kita non muslim. Setiap muslim wajib mentaati dan patuh kepada kedua orang tua selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at dan tidak boleh memperlakukan keduanya dengan buruk.

Dalam kutipan Q. S Al-Isra ayat 23-24, mengajarkan kita untuk tetap berlaku baik dengan orang tua serta tidak boleh berkata kasar dengan mereka. Berikut kutipan ayat tersebut:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayanng dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah mendidik aku di waktu kecil.” (Q. S. Al Isra’: 23-24)

Pada ayat tersebut disambungkan dengan perintah untuk mentauhidkan Allah dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal tersebut menunjukkan bahwasanya begitu pentingnya kedudukan bakti terhadap orang tua di dalam ajaran Islam. Allah meletakkan hak orang tua agar diperlakukan dengan baik setelah hak Allah diibadahi. Hal ini juga menjadi isyarat bahwa ibadah kepada Allah akan sia-sia pabila tidak diikuti dengan bakti kita kepada orang tua. Meskpun sholat sunnahmu setiap hari beribu rakaat, sedekahmu berjuta-juta, namun ketika bersama kedua orang tuamu kau tusukkan duri didalam hatinya, maka jalan menuju surga bagimu akan terasa sulit dan terjal.

Terdapat sebuah cerita yang mungkin dapat menginspirasi kita.

Ada seorang perempuan tua yang tinggal bersama anak laki-lakinya, menantu, dan cucunya yang baru berusia 6 tahun. Karena perempuan tersebt sudah lanjut usia dan sudah renda bahkan kondisinya pun sangat memprihatinkan, tangannya selalu gemetaran, matanya kabur, dan jalannya tertatih-tatih.

Keluarga ini selalu makan bersama di meja makan keluarga namun tangan ibu mereka selalu gemetaran sehingga untuk makan pun tersa sulit baginya. Bahkan lauk, nasi, sendok hingga berjatuhan di meja atau pun lantai. Bila ia hendak mengambil minum, terkadang sampai tumpah ke meja hingga membasahi telapak meja. Anak dan menantunya sangat geram melihat tingkah ibunya, hingga pada akhirnya mereka memiliki rencana untuk membuatkan meja makan hanya untuk ibunya seorang. Meja tersebut diletakkan di sebelah pojok ruang makan. Karena sang ibu ketika makan sering memecahkan piring, maka makanan di meja tersebut disediakan mangkuk yang terbuat dari kayu.

Ketika makan, seringkali mereka melirik ke arah wanita tua itu, dan matanya pun terlihat berkaca-kaca. Namun hal tersebut tidak membuat hati mereka terasa iba. Apabila terdapat sesuatu yang tidak beres terhadap ibunya, mereka menegurnya dengan keras. Dan sang cucu secara diam-diam melihat semua kejadian tersebut.

Suatu hari sebelum makan malam, suami istri melihat anaknya yang sedang bermain-main dengan beberapa potongan kayu dilantai. Kemudian sang ayah bertanya kepada anak, “lagi bikin apa, Nak?”. Sang anak menjawab pertanyaan ayahnya,”aku sedang membuat mejadan mangkuk kecil untuk makan ayah dan ibu kelak ketika aku sudah besar nanti.” Sang anak tersenyum manis, lalu kembali asyik dengan potongan-potongan kayunya.

Apa yang telah dicapkan anak tersebut membuat hati kedua orang tuanya trenyuh. Air mata mulai mengalir di pipi mereka. Meskipun keduanya tidak berbicara, namun mereka tahu apa yang harus dilakukan. Ketika makan malam, sang suami dengan penuh kelembutan memegang dan menuntun ibunya ke meja makan keluarga. Sejak hari itulah wanita tua itu makan kembali bersama-sama dengan anak, menantu, dan cucunya. Tidak mempedulikan sendok yang jatuh, teh yang tumpah, dan meja yang kotor.

Perjuangan dan kegigihan orang tua dalam merawat, menjawa, dan memelihara anak tidak bisa diukur dalam bentuk apapun. Mereka rela berada dalam kesusahan, kesedihan, demi melihat senyuman buah hatinya. Banyak pengorbanan yang telah dilakukan demi untuk anak tercinta, mereka ikhlaskan demi anak yang tersayang. Mereka adalah kunci untuk meraih kebahagiaan di dunia dan tiket menuju surga.

Terkadang sebagian dari kita beranggapan bahwasanya kewajiban kepada orang tua hanya sampai ketika mereka telah wafat. Namun ketahuilah, bahwa setelah wafat orang tua kita sangat membutuhkan bakti anak-anaknya. Ketika telah memasuki alam barzah, mereka sangat butuh permohonan ampun dan doa dari anak-anaknya, sehingga mereka akan mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan dari Allah Swt.

Seorang ibu sanggung memelihara 10 anak, namun 10 anak belum tentu sanggup merawat dengan baik seorang ibu. Maka berbaktilah kepada kedua orang tua, terutama ibu, yang telah melahirkan, memelihara, merawat, kita karena harga mati, tidak boleh terlewati, selama hidup masih kita jalani.

Jaga dan doakan mereka selagi masih diberi umur panjang, dan doakan juga meskipun beliau telah tiada. “Rabbanagh-firlana waliwalidiina warham-huma kama rabbayaanaa shighaara.” Aamiin

Wallahu ‘alam bi al shawwab


No comments for "Birrul Walidain"