Memuat…

Kisah keteladanan seekor semut


Semut adalah salah satu hewan yang telah diabadikan di dalam al Quran, termaktub dalam Q. S. an Naml. Dalam surat tersebut, juga dijelaskan bahwa sempat terjadi komunikasi antara semut dan nabi Sulaiman AS. 
Dalam suatu kisah yang menceritakan keduanya, yaitu ketika di tengah perjalanan, nabi Sulaiman dan pasukannya sedang memasuki sebuah lembah. Di lembah tersebut banyak sarang semut. Melihat banyaknya pasukan yang dibawa oleh nabi Sulaiman, semut-semut pun ketakutan, karena mereka khawatir akan terinjak-injak oleh pasukan nabi Sulaiman AS. Oleh Karena itu, salah seekor semut, yang merupakan semut pengintai memberitahu kawannya untuk segera menuju sarang, karena takut akan terinjak jika tidak segera menghindar. Seperti yang telah kita ketahui, bahwasanya Allah telah memberikan mukjizat kepada nabi Sulaiman, yaitu dapat memahami bahasa binatang. Mendengar perintah semut pengintai kepada temannya, nabi Sulaiman tersenyum. Seperti yang telah dikisahkan dalam Q. S. an Naml ayat 18, 
حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. 
Tempat tinggal semut, biasanya di suatu tempat tertentu dan hidup secara berkelompok. Terkadang juga dapat menempati di satu lembah yang luas sebagai tempat tinggal mereka. Mereka hidup bekerjasama dengan anggota kelompok lain. Misalnya, ketika mereka dihadapkan pada suatu rintangan berupa air, maka semut-semut yang muda, khususnya yang jantan dan memiliki badan kuat akan berusaha membangun suatu jembatan yaitu dengan cara mengaitkan kaki mereka masing-masing yang berfungsi sebagai jalan yang akan mereka tempuh. Sehingga semut-semut yang lemah, tua, masih kecil, atau yang terluka dapat melewati rintangan tersebut dengan selamat.
Terkadang kita memang tak pernah tau tentang bagaimana cara semut untuk tetap bertahan hidup dengan yang lainnya. Terdapat beberapa hal yang dapat kita ambil dari kisah-kisah semut, yaitu terkait dengan tanggungjawab yang dimiliki, karena semut juga mengajarkan kepada manusia tentang pentingnya kerja sosial dalam masyarakat terutama dalam hal tolong menolong dan gotong royong. Dalam hal ini, contohnya yaitu ketika ada salah satu semut yang kelaparan, maka semut lain yang melihat akan memberikan sari-sari dalam tubuhnya untuk diberikan kepada semut yang kelaparan. Ketika gotong royong pun, semut saling bahu-membahu untuk menggotong makanan yang diperolehnya dibawa ke sarang. Jika semut tersebut tidak mampu mengangkat, maka salah satu semut kembali ke sarang untuk memberitahu semut yang lain untuk bersama-sama segera mengangkat makanan tersebut. Sikap gotong royong inilah yang harusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.  
Wallahu 'alam

Optimis, Ikhtiar, dan Tawakal

Optimis, Ikhtiar, dan Tawakal

Image result for kesuksesan
Allah SWT., selalu menguji hambanya dengan berbagai cara tentunya untuk mengetahui tingkat kesabarannya. Ujian yang Allah berikan, bisa berupa sakit, kesusahan, kelaparan, kesedihan, dan lain sebagainya. kesabaran seseorang dapat dilihat dari ujian tersebut. Jika seseorang tersebut selalu sabar dan tetap optimis, maka Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda. Setiap ujian yang telah Allah berikan, tidk untuk ditakuti, ataupun malah dihindari namun untuk kita hadapi dengan sikap yang baik. Setiap manusia pasti pernah mengalami kesusahan, kesedihan, dan kebahagiaan. Semua itu diciptakan memang untuk menguji setiap hambaNya. Setiap ujian dan cobaan yang diberikan Allah SWT, dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.
Dalam kehidupan sehari-hari pasti kita pernah menjumpai seseorang yang berputus asa atas masalah yang sedang dihadapinya. Mereka merasa bahwa masalah yang sedang ia hadi adalah masalah yang sangat besar dan tidak bisa diselesaikan. Karena ia merasa pikirannya sudah tumpul dan tidak dapat berfikir secara jernih, sehingga ia tidak dapat memecahkan masalah atau tidak mampu memberikan solusi untuk dirinya sendiri. Mereka merasa depresi, stres, bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Orang-orang seperti inilah tipe orang yang berputus asa. Padahal, putus asa merupakan perilaku tercela yang harus dihindari dan dengan berputus asa menyebabkan seseorang jauh dari kasih sayang Allah SWT.
Sebagai makhluk ciptaan Allah, masing-masing dari kita pasti memiliki cita-cita dan harapan yang ingin dicapai. Maka seharusnya kita bisa tetap optimis dan bersabar dalam melalui tahap-tahap untuk mencapai kesuksesan tersebut. Sikap optimis akan menambah semangat dan kekuatan dalam diri kita. Tidak cukup hanya dengan optimis saja, namun juga harus ada usaha yang nyata untuk meraih apa yang kita cita-citakan dan impikan. Setelah berusaha sekuat tenaga dan berdoa, pasrahkan semua kepada Allah Swt. Kepasrhan kita kepada Allah Swt., akan membuat hidup kita menjadi tenang, damai, dan senantiasa bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah untuk kita. Tidak sedikit seseorang yang berprasangka buruk kepada Allah Swt, karena apa yang mereka usahakan belum tercapai. Allah Swt, Maha berkehendak. Manusia hanya bisa berusaha, sedangkan Allah lah yang menentukan. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita, maka dari itu tetap berprasangka baik dengan Allah, karena semua itu akan ada hikmah yang dapat kita ambil.
Optmis, Ikhtiar, dan Tawakal merupakan akhlak terpuji yang harus dimiliki setiap mukmin. Ketiganya merupakan kunci untuk meraih kesuksesan hidup, baik didunia maupun di akhirat. Semua orang pasti ingin sukses, oleh karena itu terapkan ketiga kunci tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 
Wallahu 'alam bii al-shawwab

Kisah menarik, Zulaikha dan Nabi Yusuf

Kisah menarik, Zulaikha dan Nabi Yusuf


Semakin Zulaikha berusaha mengejar cinta Yusuf, semakin menjauh Yusuf kepadanya. Namun, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Dia datangkan Yusuf untuk Zulaikha

Membahas perihal jodoh, memang tak ada yang tau. Jodoh, rezeki, dan maut hanya Tuhan yang tau. Mungkin selama ini kita sudah berusaha mencari tau siapa jodoh kita, namun jika Tuhan belum mempertemukan jodoh kita, bagaimana lagi? Entah kepada siapa kelak hati kita akan berlabuh, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita. 
Seperti halnya dengan kisah Siti Zulaikha yang melabuhkan hatinya kepada nabi Yusuf. Zulaikha ang selalu menghalalkan segala cara untuk berusaha mengambil hatinya Yusuf, namun malah semakin menjauh Yusuf kepadanya. Namun ketika Zulaikha mengejar cinta Sang Pencipta, ia dapatkan Yusuf untuknya. Begitulah kisah cinta Zulaikha dan Yusuf, yang berakhir dengan sangat indah dan penuh dengan lika-liku.
Pada awal pertemuan mereka, bukanlah suatu kejadian yang terduga-duga melainkan karena Yusuf merupakan budak yang diangkat anak oleh Qatifar yang merupakan suami dari Zulaikha. Pada saat itu Qatifar diketahui sebagai seorang perdana menteri di Mesir yang pengaruhnya cukup kuat. Nabi Yusuf tinggal di istana bersama keluarga angkatnya. Nabi Yusuf adalah salah satu nabi yang memiliki sifat keteladanan dalam hal menjaga diri dan nafsu duniawi. Hal ini membuktikan bahwa kesabaran dan keikhlasan merupakan suatu hal yang membuahkan hasil yang tidak sia-sia, sehingga Allah membalas dengan berlipat kenikmatan yang lainnya. Nabi Yusuf juga membuktikan keteladan lainnya, salah satunya, yaitu tidak tertipu atau terperdaya oleh kebahagiaan duniawi.
Pada saat itu, Zulaikha masih sangat muda dan cantik sehingga tidak memandang Yusuf sebagai orang yang rendah, melainkan pria yang sangat menarik. Hanya dalam waktu yang cukup singkat Zulaikha sudah berikrar untuk menautkan hatinya kepada Yusuf yang pada saat itu masih sangat muda, sekitar umur 20 an tahun. Zulaikha adalah cobaan terberat nabi Yusuf. Sebagai seorang laki-laki, Yusuf juga memiliki nafsu, terlebih Zulaikha adalah perempuan yang begitu cantik jelita. Bahkan, Zulaikha selalu berhias secantik mungkin untuk menggoda dirinya. Namun, Yusuf sangat tau kalau dirinya tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak wajar.
Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat susah bagi nabi Yusuf untuk menjaga hati dan nafsunya. Terlebih lagi, setiap waktu Zulaikha menunjukkan tanda-tanda kesukaan terhadap Yusuf. Tapi, perjuangan besar ini tidak percuma, pada akhirnya Yusuf seolah seperti batu yang tak tahan godaan. Ia juga berdoa agar bisa dijauhkan dari hal-hal yang bisa menjerumuskannya ke dalam lubang keburukan. 

Dikisahkan dalam Q. S. Yusuf ayat 23.

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ 
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini". Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik". Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (23)
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (24)
Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?" (25)
Dalam kisah tersebut, bahwa Zulaikha mengunci tujuh lapis pintu untuk bisa bercinta dengan nabi Yusuf. Kamar Zulaikha memiliki tujuh lapis pintu dan bisa dipastikan bahwa kamar Zulaikha sangat aman dari para penyusup. Bahkan sang suami sendiri pun tak akan bisa masuk kamar tersebut, karena hanya ia seorang yang memegang kuncinya. Kamar yang sangat rapat ini kemudian menjadi senjata bagi Zulaikha untuk mengajak Yusuf melakukan hal-hal yang buruk. Saat itu Yusuf sedang membersihkan kamar, kemudian kata demi kata rayuan terlontarkan oleh Zulaikha untuk anak angkat suaminya itu. Namun Yusuf menolak akan hal itu. Zulaikha mengancam Yusuf akan memenjarakannya jika ia tetap menolak.
Pada akhirnya Zulaikha menjatuhkan fitnah karena cintanya yang teak terbalaskan. Zulaikha tak terbendung lagi, karena Yusuf tak tergoda dengan rayuan dan kecantikannya. Namun, ia tidak putus asa, ia mencoba untuk kembali mendapatkan Yusuf. Kelakuannya hingga keluar batas atau tidak sewajarnya. Zulaikha menarik baju Yusuf hingga sobek. Tiba-tiba suami Zulaikha muncul dan mengetahui hal tersebut. Zulaikha panik dan kebingungan, akhirnya pun Zulaikha buru-buru menutup aibnya dengan menjatuhkan semua kesalahannya pada Yusuf dan meminta agar ia dipenjarakan dalam waktu yang begitu lama.
Setelah sekian lama Yusuf dipenjara, tibalah ia dibebaskan. Nabi Yusuf pun akhirnya menjadi bendahara Negara, bahkan menjadi pengganti raja yang sebelumnya telah meninggal. Nabi Yusuf dipertemukan dengan Zulaikha yang telah menyesali segala perbuatannya. Dan akhirnya mereka menikah.
Begitulah sekilas kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha. Mereka memiliki lika-liku kehidupan yang sangat rumit perihal jodoh. Kita tidak pernah tahu kepada siapa kelak akan menikah. Karena menikah bukan suatu hal untuk main-main. Menikah juga tidak hanya untuk satu tahun atau dua tahun, namun untuk selamanya. Menjalani kehidupan bersama dan membangun bahtera kehidupan dengan damai dan tenteran tentunya untuk mengharap ridho Allah SWT. 
Wallahu’alam bii al-showwab 





Birrul Walidain


Sebentar lagi, kita akan memperingati hari Ibu, yaitu pada tanggal 22 Desember. Peringatan tersebut, tidak lain untuk menyadarkan kita seberapa besar perjuangan kedua orang tua kita, terutama seorang Ibu yang sudah berusaha menghadirkan kita untuk bernafas di dunia ini. Berjuang bertaruh nyawa hanya untuk melahirkan kita di dunia, merawat dan menjaga dengan penuh kesabaran serta kelembutan.

Seseorang boleh jadi tidak memiliki anak, namun tidak ada seorang pun yang lahir di dunia ini tanpa orang tua. Jadi setiap orang pasti memiliki orang tua. Dan birrul walidain merupakan salah satu ajaran Islam yang menunjukkkan perilaku berbakti kita kepada kedua orang tua. Hukumnya yaitu fardhu ‘ain bagi setiap muslim, meskipun seandainya kedua orang tua kita non muslim. Setiap muslim wajib mentaati dan patuh kepada kedua orang tua selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at dan tidak boleh memperlakukan keduanya dengan buruk.

Dalam kutipan Q. S Al-Isra ayat 23-24, mengajarkan kita untuk tetap berlaku baik dengan orang tua serta tidak boleh berkata kasar dengan mereka. Berikut kutipan ayat tersebut:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayanng dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah mendidik aku di waktu kecil.” (Q. S. Al Isra’: 23-24)

Pada ayat tersebut disambungkan dengan perintah untuk mentauhidkan Allah dengan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Hal tersebut menunjukkan bahwasanya begitu pentingnya kedudukan bakti terhadap orang tua di dalam ajaran Islam. Allah meletakkan hak orang tua agar diperlakukan dengan baik setelah hak Allah diibadahi. Hal ini juga menjadi isyarat bahwa ibadah kepada Allah akan sia-sia pabila tidak diikuti dengan bakti kita kepada orang tua. Meskpun sholat sunnahmu setiap hari beribu rakaat, sedekahmu berjuta-juta, namun ketika bersama kedua orang tuamu kau tusukkan duri didalam hatinya, maka jalan menuju surga bagimu akan terasa sulit dan terjal.

Terdapat sebuah cerita yang mungkin dapat menginspirasi kita.

Ada seorang perempuan tua yang tinggal bersama anak laki-lakinya, menantu, dan cucunya yang baru berusia 6 tahun. Karena perempuan tersebt sudah lanjut usia dan sudah renda bahkan kondisinya pun sangat memprihatinkan, tangannya selalu gemetaran, matanya kabur, dan jalannya tertatih-tatih.

Keluarga ini selalu makan bersama di meja makan keluarga namun tangan ibu mereka selalu gemetaran sehingga untuk makan pun tersa sulit baginya. Bahkan lauk, nasi, sendok hingga berjatuhan di meja atau pun lantai. Bila ia hendak mengambil minum, terkadang sampai tumpah ke meja hingga membasahi telapak meja. Anak dan menantunya sangat geram melihat tingkah ibunya, hingga pada akhirnya mereka memiliki rencana untuk membuatkan meja makan hanya untuk ibunya seorang. Meja tersebut diletakkan di sebelah pojok ruang makan. Karena sang ibu ketika makan sering memecahkan piring, maka makanan di meja tersebut disediakan mangkuk yang terbuat dari kayu.

Ketika makan, seringkali mereka melirik ke arah wanita tua itu, dan matanya pun terlihat berkaca-kaca. Namun hal tersebut tidak membuat hati mereka terasa iba. Apabila terdapat sesuatu yang tidak beres terhadap ibunya, mereka menegurnya dengan keras. Dan sang cucu secara diam-diam melihat semua kejadian tersebut.

Suatu hari sebelum makan malam, suami istri melihat anaknya yang sedang bermain-main dengan beberapa potongan kayu dilantai. Kemudian sang ayah bertanya kepada anak, “lagi bikin apa, Nak?”. Sang anak menjawab pertanyaan ayahnya,”aku sedang membuat mejadan mangkuk kecil untuk makan ayah dan ibu kelak ketika aku sudah besar nanti.” Sang anak tersenyum manis, lalu kembali asyik dengan potongan-potongan kayunya.

Apa yang telah dicapkan anak tersebut membuat hati kedua orang tuanya trenyuh. Air mata mulai mengalir di pipi mereka. Meskipun keduanya tidak berbicara, namun mereka tahu apa yang harus dilakukan. Ketika makan malam, sang suami dengan penuh kelembutan memegang dan menuntun ibunya ke meja makan keluarga. Sejak hari itulah wanita tua itu makan kembali bersama-sama dengan anak, menantu, dan cucunya. Tidak mempedulikan sendok yang jatuh, teh yang tumpah, dan meja yang kotor.

Perjuangan dan kegigihan orang tua dalam merawat, menjawa, dan memelihara anak tidak bisa diukur dalam bentuk apapun. Mereka rela berada dalam kesusahan, kesedihan, demi melihat senyuman buah hatinya. Banyak pengorbanan yang telah dilakukan demi untuk anak tercinta, mereka ikhlaskan demi anak yang tersayang. Mereka adalah kunci untuk meraih kebahagiaan di dunia dan tiket menuju surga.

Terkadang sebagian dari kita beranggapan bahwasanya kewajiban kepada orang tua hanya sampai ketika mereka telah wafat. Namun ketahuilah, bahwa setelah wafat orang tua kita sangat membutuhkan bakti anak-anaknya. Ketika telah memasuki alam barzah, mereka sangat butuh permohonan ampun dan doa dari anak-anaknya, sehingga mereka akan mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan dari Allah Swt.

Seorang ibu sanggung memelihara 10 anak, namun 10 anak belum tentu sanggup merawat dengan baik seorang ibu. Maka berbaktilah kepada kedua orang tua, terutama ibu, yang telah melahirkan, memelihara, merawat, kita karena harga mati, tidak boleh terlewati, selama hidup masih kita jalani.

Jaga dan doakan mereka selagi masih diberi umur panjang, dan doakan juga meskipun beliau telah tiada. “Rabbanagh-firlana waliwalidiina warham-huma kama rabbayaanaa shighaara.” Aamiin

Wallahu ‘alam bi al shawwab


Menghafal Al Qur'an itu Nikmat

Bagi seorang muslim bisa menghafal al quran tentu suatu hal yang sangat diinginkan. Mendapat ketenangan dan rahmat, diangkat derajatnya oleh Allah serta dapat memberi syafaat bagi keluarganya adalah beberapa keutamaan yang akan di dapat seorang penghafal al quran.
Kalau kamu ingin serius menghafal al quran berikut ini ada beberapa tips yang insyaAllah dapat membuat kita merasa nikmat menghafal al quran. Tips ini disarikan dari kajian Ustadz Deden Mukhyaruddin yang mampu menghafal 30 juz dalam 19 hari. Subhanallah.

Sebelum memberikan tips menghafal al quran beliau menasihati peserta kajian untuk berlama-lama dalam menghafal. Jangan punya keinginan cepat hafal al quran tapi akhlaknya jauh dari al quran. Karena menghafal al quran sejatinya adalah beribadah kepada Allah. Untuk itu hendaknya kita berlama-lama ketika beribadah.
Nah, berikut ini 8 tips menghafal al quran dari Ustadz Deden, dijamin proses menghafalmu akan terasa nikmat.

1. Menghafal Tidak Harus Hafal

























500px.com

Kemampuan mengingat dan menghafal tiap orang berbeda-beda, pun demikian tingkat intelektual seseorang juga tidak ada yang sama. Target utama kita bukanlah banyaknya hafalan, tapi bagaimana menghabiskan sisa umur kita untuk selalu dekat dengan al quran.
Sebagian dari kita mungkin sudah tahu Imam Asim, Imam besar dalam ilmu qiraat yang sebagian besar muslim Indonesia merujuk pada riwayat beliau. Beliau menghafal al quran dalam kurun waktu 20 tahun, cukup lama jika dibandingkan dengan imam-imam lain.
Itu salah satu contoh kalau kita tidak perlu ingin cepat hafal. Nikmati saja prosesnya dan jalani dengan hati gembira.

2. Bukan Untuk Diburu-buru, Bukan Untuk Ditunda-tunda

























500px.com

Kalau kita sudah menetapkan durasi untuk menghafal misal satu jam tiap hari, maka berapapun ayat yang bisa kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru menghafal ayat ke-2 sebelum ayat pertama hafal.
Nikmati saja proses menghafal, saat dimana kita bercengkrama dengan Allah lewat ayat-ayat yang kita baca. Masih ingat kan kalau membaca satu huruf kita mendapat sepuluh pahala?

3. Menghafal Bukan Untuk Khatam, Tapi Untuk Setia Bersama Al quran

























500px.com

Al quran bukanlah sebuah beban yang harus segera dilepaskan, bukan pula masalah yang harus segera di selesaikan. Tapi al quran adalah nikmat yang emang layak kita syukuri. Bukankah di awal surat Thaha Allah berfirman bahwa al quran diturunkan bukan sebagai beban?
Aneh saja kalau ada yang bilang “menghafal al quran emang kudu sabar”. Sebenarnya tidak salah, hanya kurang tepat saja kalimat seperti itu. Kesannya ayat-ayat al quran itu sebuah beban atau masalah yang membutuhkan kesabaran ekstra.
Perlu kita rubah pola pikir kita dulu, bahwa penghafal al quran harusnya bersyukur bukan bersabar. Bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menghafal kalam mulia. jadikan al quran sebagai teman setiamu. Jadikan al quran sebagai sahabat karibmu baik dikala lapang maupung sempit.

4. Senang Dirindukan Ayat





500px.com

Ayat-ayat al quran yang sudah berusaha ita hafal tapi gak hafal-hafal, sebenarnya ayat itu lagi kangen dengan kita. Ia ingin kita berlama-lama bersamanya.
Kita bisa membaca arti serta tafsirnya, bisa jadi ayat tersebut merupakan ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan langsung sumpek dan suntuk ketika ayat-ayat itu tak kunjng hafal juga. Justru kita harusnya senang jadi orang yang dirindukan ayat al quran.

5. Menghafal Sedikit Demi Sedikit
























500px.com

Suatu makanan akan terasa nikmat ketika kita sedang memakannya. Besarnya suapan juga harus pas dengan mulut kita. Makanan tersebut baru akan terasa nikmat jika dimakan.
Menghafal pun demikian, nikmatnya akan terasa ketika membacanya berulang-ulang. Berusaha menghafal ayat demi ayat disertai penghayatan akan makna dan tafsirnya.
Jika menghafal satu ayat terlalu berat, maka bacalah potongan ayat berulang-ulang. jangan terlalu memaksakan diri untuk menghafal satu ayat dalam sehari.

6. Fokus Pada Perbedaan, Abaikan Persamaan




















500px.com

Ada banyak sekali ayat al quran yang bunyinya hampir mirip bahkan sama persis. Sebagai contoh ada ayat dalam surat Ar-Rahman yang berbunyi “Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dzibaan”. Ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam satu surat.
Artinya jika kita hafal satu ayat ini maka sebenarnya kita sudah menghafal 31 ayat dari 78 ayat yang ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir setengah surat kita hafal. Selanjutnya fokuslah pada ayat sebelum dan sesudahnya yang merangkai surat tersebut.

7. Mengutamakan Durasi


























500px.com
Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi menghafal bukan jumlah ayat yang akan dihafal. Luangkan waktu minimal satu jam sehari untuk fokus menghafal, jangan gunakan untuk hal lain yang tidak ada hubungannya dengan menghafal al quran.

8. Cari Guru yang Bisa Membimbing Dalam Menghafal




500px.com

 Carilah guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Guru tersebut akan membenarkan bacaan tajwid yang keliru. Selain itu ia bisa memberi nasihat dan masukan kepada kita kalau kita lagi ‘galau’ karena susah masuk hafalannya.
Semoga ini bisa menjadi solusi bagi kita yang merasa bosan, tertekan bahkan capek dalam menghafal.
Mari kita sama-sama berdoa agar lebih giat menghafal al quran dan diberi kemudahan dalam menghafal.



Sumber : http://santaisaja.net/

Perjalanan Berharga



Kisah dari seorang anak yang tumbuh dari keluarga sederhana. Sebut saja dengan nama Aini, ia memiliki 2 saudara kandung. Ia memiliki satu kakak laki-laki dan satu adik laki-laki. Ia sangat bersyukur, karena diapit oleh dua laki-laki, yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya. Ia sangat bersyukur dengan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Memang, jika dilihat-lihat ia tak sebanding dengan apa yang dimiliki oleh teman-temannya. Namun, ia berfikir kembali, teman-teman saya juga belum tentu memiliki apa yang telah saya miliki saat ini.
Manusia memang tak luput dari perasaan keluh kesah, namun dengan keluh kesah hanya akan menambah kekufuran kita kepada Sang Maha Pencipta. Begitupun dengan Aini, ia memang terkadang sering berkeluh kesah, namun ia langsung sadar meminta ampunan kepada Tuhan. Aini adalah orang yang tegas, rajin, namun memiliki beberapa kekurangan, yaitu kurang percaya diri dan kurang menampakkan dirinya di dunia luar.
Ia berusia 21 tahun, sedang menjalani proses pendidikan S1 di sebuah Universitas Islam. Semenjak SMA ia tidak tinggal di rumah, namun berada di sebuah asrama kota seberang. Dan hingga sekarang pun juga tidak tinggal dengan kedua orang tuanya, namun di asrama, karena harus menyelesaikan studinya. Jarak antara rumah dengan asrama tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dengan menggunakan bus kurang lebih selama 1 jam. Namun, ia tidak sering pulang, karena jika ia pulang harus mengikuti prosedur perizinan di asrama.
Harapan orang tua, Aini berada di asrama, yaitu ingin menjadikan anaknya seorang hafidzah. Keinginan orangtuanya telah dijalankan oleh anaknya. Meskipun terkadang ia merasa tak mampu dan terdapat beberapa hal yang menjadi faktor penghambat untuk menuju proses seorang hafidzah. Namun ia yakin, apa yang menjadi harapan orangtuanya akan terwujud. Selain menjadlani studi di kampus dan asrama, ia juga aktif di organisasi, dan hal itulah yang terkadang menjadi salah satu faktor penghambat. Karena ia harus mengikuti berbagai acara yang telah diselenggarakan oleh organisasi tersebut.
Karena dengan berorganisasi, ia menjadi lebih terampil dan memiliki berbagai pengalaman didunia luar, yang tidak hanya sekedar di kampus dan asrama saja. Hal tersebut bisa menjadi bekal untuk terjun ke masyarakat. Dengan berbagai rutinitas yang telah ia jalani, terkadang ia merasa lelah, letih dan bahkan hingga meneteskan air mata. Karena ia merasa apa yang menjadi harapan orang tuanya belum bisa menjadi prioritas. Semua itu adalah tuntutan, dan bahkan terkadang ia merasa tertekan dengan apa yang sedang dijalani. Ia selalu teringat pesan dari orangtuanya, dan itu semua tidak sekedar untuk diingat saja, namun juga dijalankan.
Karena kedua orangtua Aini hanya ingin menjadikan anak-anaknya sukses dunia dan akhirat. Mungkin saat ini ia hanya bisa menyusahkan dan merepotkan saja, karena belum bisa memberikan apa yang diharapkan oleh keluarga. Namun ia yakin, bahwa suatu saat akan menjadi orang sukses dan harapan orangtuanya dapat tercapai.
Ia bolak-balik kampus, ditemani oleh bayang-bayang dirinya sendiri, berjalan menyusuri kampus dengan panasnya terik matahari, yang memiliki jarak tempuh kurang lebih 20 menit untuk sampai tujuan. Begitulah seorang Aini yang ketika hendak pergi ke kampus dan tak lupa ia membaca sholawat Nabi, karena setiap ia membaca sholawat keberuntungan dan kebaikan akan berpihak padanya. Ia sangat bersyukur, karena Tuhan memberikan kekuatan dan kesehatan dalam dirinya.
Setelah melalui proses yang panjang dan penuh perjuangan, akhirnya ia dapat menyelesaikan program studi S1 di Universitas Islam dan juga hafalannya di asrama. Sungguh, hal tersebut merupakan sesuatu yang tak terduga-duga. Tuhan telah mengabulkan apa yang menjadi harapan orangtuanya dan juga dirinya sendiri, yang merupakan suatu kebanggaan dan anugerah terindah yang Tuhan berikan.
Singkat cerita…..
Pelaksanaan wisuda sedang berlangsung sangat ramai di gedung auditorium Universitas. Aini berada di dalam gedung bersama kedua orangtuanya. Hal tersebut merupakan moment yang tak akan pernah bisa terlupakan bagi Aini. Ia berjuang, lelah, letih yang ia rasakan, hingga akhirnya bisa berada di barisan para wisudawan. Setelah selesai pelaksanaan wisuda, Aini dan keluarga berlanjut pelaksanaan wisuda di asrama, yang juga dihadiri oleh Kyai. Orangtua Aini berkaca-kaca melihat hasil pencapaian anaknya, begitu pun kakak dan adiknya, yang terlihat sangat bahagia dengan prestasi yang telah diraih oleh Aini. Akhirnya ia bisa menyelesaikan studinya tepat waktu pada usia 22 tahun, di Universitas dan di Asrama.
Setelah selesai acara wisuda, mereka melakukan sesi foto bersama untuk diabadikan di rumahnya.
Begitulah singkat cerita Aini, yang memiliki banyak lika-liku kehidupan, yang hingga pada akhirnya ia mampu melakukan apa yang ia inginkan. Namun, masih banyak hal yang perlu dicapai untuk mencapai sebuah kesuksesan.
Seterjal apapun jalan yang telah kau tempuh, pasti akan menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam hidupmu. Seberat, sebesar apapun cobaan dan ujian yang kau tempuh, disitulah Tuhan memberikan hikmah yang dapat kau cerna.
Karena usaha tidak akan mengkhianati hasil. So, good luck and fighting……
  

Satu kata penuh makna, CINTA





Berbicara tentang cinta, pasti semua orang sudah mengetahui adanya hal tersebut, dan tentunya sudah tak asing lagi di telinga kita. Siapa sih yang tidak mengenal, dan bahkan tidak pernah merasakan cinta? Hampir semua orang mengalami dan merasakan cinta. Namun, cinta yang bagaimana? Apakah malah menjerumuskan kita kepada kemaksiatan? Atau malah menjadikan kita semakin dekat Sang Pencipta?


Membahas masalah cinta, memang tidak ada habisnya. Namun, hal tersebut perlu kita ketahui, agar kita tidak terjebak dalam cinta yang salah. Ada beberapa pengertian mengenai cinta dari berbagai sumber. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta diartikan sebagai perasaan kasih dan saying kepada sesuatu atau orang lain. Secara istilah dapat dijelaskan bahwasanya cinta merupakan suatu perasaan yang dialami oleh manusia dan perasaan yang menimbulkan kasih saying bagi orang yang merasakannya. Sedangkan cinta menurut pandangan Islam, yaitu limpahan kasih saying Allah kepada seluruh makhluknya, sehingga Allah menciptakan manusia, dan seisinya dengan segala kesempurnaan.


Adapun cinta yang hakiki hanyalah milik Allah Swt., karena hanya Allah yang Maha Sempurna dan Maha Pemilik Cinta. Dalam pengertian lain, Islam juga memandang cinta sebagai bentuk dasar persaudaraan antarmanusia dan persaudaraan yang melandasi hubungannya dengan makhluk lain, seperti pada hewan dan tumbuhan. Ibnu Hazm, meyebutkan bahwa cinta merupakan sebuah naluri atau insting yang menggelayuti perasaan seseorang terhadap orang yang dicintainya.


Seorang ahli filsuf, Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa cinta terbagi menjadi empat jenis tingkatan, yaitu:


Tingkatan pertama. Seorang manusia dicintai karena memiliki kelebihan. Ada beberapa kemungkinan bahwa seseorang dapat menjadi objek cinta orang lain, yaitu ketika seseorang melihat seorang lainnya, mengenalnya, dan menganggapnya baik setelah mengetahui karakter dan tingkah lakunya. Segala sesuatu yang indah merupakan objek kesenangan bagi seseorang yang mencintai keindahan. Ada hal lainnya mengenai cinta, yaitu kualitas internal.


Orang bijak, Malik bin Dinar berkata: “Dari sepuluh orang, dua orang akan tidak setuju, tetapi jika sifat kedua orang itu sama, mereka akan setuju. Hal ini membuktikan bahwa, seseorang telah mencintai orang lain karena memiliki sifat yang sama, bukan untuk mendapatkan keuntungan apapun, bukan untuk memperoleh kekayaan, tetapi karena memiliki sifat yang sama, dan kualitas internalnya sama.”


Tingkatan kedua. Seseorang mencintai sesuatu karena untuk mendapatkan cinta dari yang lainnya. Segala sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan rasa saying, juga menjadi hal yang disayangi. Untuk alasan tersebut, emas dan perak disayangi oleh manusia, meskpun sebenarnya tidak memiliki kegunaan, karena kedua barang tersebut tidak dimakan, juga tidak dapat digunakan sebagai pakaian, tetapi merupakan sarana untuk mendapatkan itu semua.


Jenis manusia yang seperti ini merupakan orang-orang yang mencintai emas dan perak, karena itu dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan, dank arena bantuannya, kekayaannya, nama, dan ketenaran dapat diraih.


Tingkatan ketiga. Sesuatu yang dicintai bkan karena dirinya, tetapi untuk hal lain yang bukan untuk kebaikan dunia ini, melainkan untuk dunia berikutnya. Hal tersebut terbuka dan bukan rahasia, misalnya untuk mencintai seorang pembimbing spiritual, karena dia menjadi sarana untuk mendapatkan pengetahuan spiritual. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesuksesan di dunia berikutnya.


Nabi Isa s berkata: “Dia yang memiliki pengetahuan, bertindak sesuai dengan pengetahuannya, dan mengajarkannya kepada orang lain disebut tindakan mulia di dalam dunia spiritual. Pengetahuan tidak lengkap tanpa murid. Jadi, murid adalah sarana guru untuk kesempurnaan. Guru mencintai para murid sebagai seorang ayah. Ini merupakan langkah untuk menuju kemajuan.”


Dia yang membelanjakan kekayaannya untuk temannya, memberinya pakaian, ememilihara dia dengan makanan, menempatkan dia di sebuah rumah untuk tinggal, dan membantunya dalam segala urusan merupakan sebuah tindakan yang memberinya kesenangan karena untuk pengabdian kepada Ilahi. Siapapun yang diperlakukan seperti itu, sesungguhnya dia telah menjadi objek dari orang tersebut untuk mewujudkan cintanya kepada Allah.


Seseorang harus mencintai kebahagiaan untuk hari esok karena akan menjadi kondisi keabadian. Jadi, penting untuk mencari tau tentang kondisi yang paling akhir. Ada dua jenis kesenangan di dunia ini. Pertama, kesenangan yang bertentangan dengan kesenangan hari esok dan membuatnya terhambat kesenangan hari esok. Para Nabi dan orang-orang shaleh sangat berhati-hati dengan hal ini. Kedua, kesenangan ynag tidak bertentangan dengan dunia selanjutnya, dan ini tidak terlarang, misalnya menikah, makan-makanan halal, dan lain-lain.


Tingkatan keempat. Cinta karena Allah. Ini adalah cinta yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak kepentingan lain. Tingkatan cinta ini merupakan tingkatan tertinggi, paling rahasia dan halus. Cinta ini dimungkinkan, seolah-olah cinta ini melampaui batas, ia menyebar ke hal-hal yang memiliki hubungan dengan yang dicintainya. Seorang kekasih bahkan mencintai hal-hal miliki sang terkasih. Seorang yang dikasih juga mencintai mereka yang melayani sang terkasih. Dia mengasihi orang-orang yang memuji dan memuliakan yang terkasih dan berusaha


Jika cinta itu kuat maka akan menyebar ke banyak hal lainnya. Cinta untuk Allah serupa. Ketika cinta Allah menyelimuti hati, itu mengendalikan hati dna bahkan menyebar ke segala sesuatu. Sang kekasih kemudian melihat kekuatan-Nya dalam segala hal. Ketika Allah mencintai seseorang, maka dia juga mencintai karya-karyanya, tulisan-tulisannya, dan tindakan-tindakannya.


Dalam sebuah kisah, ketika buah segar dibawa kepada Nabi Muhammad SAW., beliau mengangkatnya ke atas matanya, emnghormatinya dan berkata: “ini telah diadakan dengan bantuan Tuhanku. Kekasih mengurangi kepedihan kekasih.”


Cinta manusia mencapai tingkatan tertingginya, ketika mereka berkata: “Kami tidak membedakan antara kesedihan dan kebahagiaan, karena semuanya datang dari Allah. Kami merasakan kebahagiaan dalam kesenangan-Nya.


Nah, beberapa tingkatan diatas, kita termasuk tingkatan yang mana nih?


Berhati-hatilah dalam mencintai, jangan sampai jatuh pada orang yang salah.. hehe


Mencintai adalah anugerah, dan memiliki adalah pilihan. Kita berhak mencintai siapa pun, namun orang yang kita cintai juga berhak untuk memilih. Cinta tidak bisa dipaksakan, kepada siapa kita mencintai dan dicintai. Bagaimana dengan orang-orang terdahulu? Tentang kisah cinta mereka yang sudah memiliki pengalaman tentang cinta, bahkan hingga menuju ke jenjang pernikahan.


Yah, banyak diantara mereka dan lebih berpengalaman tentang cinta, hingga menemukan cinta sejatinya, bukan cinta monyet lohh yaa. Wkwkwkwkwk


Tunggu kisah-kisah cinta yang akan saya tulis, tentunya di blog https://nuritsnaini.rahmancyber.net/