Apa sih Itu Ikhlas?

Ikhlas
Ikhlas


Sobat Belajar Tentang Islam, kali ini saya akan membahas tentang IKHLAS, seperti apasih itu ikhlas... nah kita akan paparkan beberapa ilmu yang telah saya dapatkan sebelumnya dari guru saya.


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang


Kata Ikhlas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sering kali kita mengucapkan kata ikhlas. Setiap perbuatan hendaknya di dasari dengan niat ikhlas. Karena, ikhlas bisa menjadi tolak ukur diterima atau tidaknya suatu perbuatan. Namun apakah kita sudah mengerti apa arti ikhlas yang sebenarnya atau hanya sekedar ucapan.
Seperti yang kita ketahui ikhlas merupakan salah satu amalan hati yang utama dan pokok. Semua amalan yang di kerjakan manusia tidak akan berarti apa-apa tanpa dilandasi rasa ikhlas. Maka dari itu, betapa pentingnya rasa ikhlas selalu tertanam  dalam hati. Supaya dapat menanamkan rasa ikhlas di hati tentunya perlu ada nya pemahan tentang ikhlas yang lebih dalam.

Rasa ikhlas sangat penting dimiliki oleh setiap orang terlebih lagi bagi seorang pendidik. Seorang pendidik yang tidak memiliki rasa ikhlas dalam mendidik tentunya akan sangat berat menjalani kehidupannya sebagai seorang pendidik. Begitu pentingnya kedudukan ikhlas, maka tidak sedikit pula ayat Al-Qur’an dan hadis yang berbicara tentang ikhlas.
Oleh karena itu, kami tim penyusun makalah akan mengupas lebih dalam mengenai ikhlas yang diharapkan dapat membuat para pembaca lebih mengerti makna ikhlas sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Rumusan Masalah


1. Apa pengertian ikhlas?
2. Apa saja hikmah dari ikhlas?
3. Bagimana kriteria pendidik yang ikhlas?
4. Apa saja contoh perilaku ikhlas dalam kehidupan sehari-hari?


C.    Tujuan


1. Untuk mengetahui pengertian ikhlas.
2. untuk mengetahui hikmah ikhlas.
3. untuk mengetahui kriteria pendidik yang ikhlas.
4. untuk mengetahui contoh perilaku ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Ikhlas 


Ikhlas secara bahasa adalah suci (ash-shafa’), bersih (an-naqi), dan tauhid. Adapun ikhlas dalam syariat Islam adalah sucinya niat, bersihnya hati dari syirik dan riya serta hanya menginginkan ridha Allah semata dalam segala kepercayaan, perkataan, dan perbuatan.[1]Tempat ikhlas adalah di dalam hati, yang berarti berkaitan dengan niat dan tujuan.[2]

Ikhlas terkait dengan niat mengerjakan sesuatu. Dalam konteks Islam, ikhlas terkait dengan pekerjaan ibadah. Ibada adalah bentuk ketaatan, perendahan diri, dan pengagungan. Pelaku ibadah adalah makhluk dan obyeknya aalah Allah SWT. Dalam konteks ibadah, ikhlas berarti memurnikan pekerjaan itu sebagai bentuk ketaatan, perendahan diri, keundukan, dan pengagungan kepada Allah dan tidak dicampuri dengan niat-niat yang lain. Ibnu Qayyim mendefinisikan ikhlas,

اِفْرَادُ اْلحَقِّ سُبْحَا نَهُ بِاْلقَصْدِ فِي الطَّاعَةِ
Mengesakan Allah yang hak dalam berniat melakukan ketaatan,bertujuan hanya kepada-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Sebagaian ulama berpendapat bahwa ikhlas adalah:

اَلاِخْلَاصُ اَنْ لَا تَطْلُبَ عَلَى عَمَلِكَ شَاهِدًا غَيْرَاللهِ وَلَا مُجَازِيًا سِوَاه
Ikhlas adalah engkau tidak mencari saksi atas amalmu selain Allah dan tidak pula mencari pembalas selainNya.

Keikhlasan dapat dirusak dengan mencampuradukkan antar urusan ibadah dengan dunia. Pekerjaan ibadah yang seharusnya murni sebagai sebuah ketaatan kepada Allah malah dijadikan sebagai ketaatan pada selain Allah. Pekerjaan ibadah yang seharusnya untuk mengharap ridha dan pahala pada Allah, diubah menjadi pekerjaan dunia yang upahnya segera dibayarkan di dunia.  Contoh hal ini adalah berzakat yang seharusnya sebagai pekerjaan ibadah berubah menjadi pekerjaan dunia, karena motivasinya agar yang diberi zakat menaruh hormat kepada si pemberi. Demikian juga ketika seseorang menunaikan ibadah haji dengan harapan di dunia ia dipandang sebagai orang yang keberagamaan dan status sosialnya tinggi oleh masyarakat.[3]Karena itu maka seorang mukmin sejati haruslah benar-benar cermat dalam menjaga hatinya, jangan sampai terbesit sifat riya’ atau keinginan pamer pada saat melakukan amal ibadah. Satu-satunya tujuan bagi orang yang ikhlas beriman kepada Allah SWT hanyalah untuk mendapatkan keridhoan Allah Taala semata.[4]

Pada intinya, ikhlas adalah koreksi diri terus menerus untuk Allah dan melupakan semua peluang nafsu. Orang yang ikhlas tidak menaati hawa nafsunya sama sekali bahkan memberontaknya. Orang yang ikhlas senantiasa membersihkan dirinya dari syahwat pujian, sanjungan, dan riya serta menyucikan dirinya dari mengejar dunia yang akan membuatnya binasa di dunia dan di akhirat.[5]


B.     Hikmah Ikhlas


  1. Jalan selamat di akhirat hanya dapat diraih dengan ikhlas.
  2. Kehidupan kalbu dan kebebasannya dari kesedihan didunia ini tidak dapat direalisasikan kecuali dengan keikhlasan.
  3. Sumber rizki pahala yang besar dan meraih kebaikan adalah dari keikhlasan pelakunya.
  4. Ikhlas dapat menyelamatkan pelakunya dari adzab yang besar pada hari pembalasan, karena sesungguhnya Nabi Saw telah memberitakan kepada kita tentang mula-mula makhluk Allah yang dibakar oleh api neraka pada hari kiamat nanti, bahwa mereka adalah orang yang rajin berinfaq, mengeluarkan sodaqahnya agar dikatakan sebagai seorang yang dermawan, orang yang tekun mempelajari ilmu, kemudian mengajarkannya agar dikatakan sebagai orang alim, dan orang yang giat berjihad di medan peperangan agar dikatakan sebagai seorang pemberani.[6]


C.    Kriteria Pendidik yang Ikhlas


Mengajar ilmu syariat bisa masuk wilayah ibadah dan bisa masuk wilayah muamalah tergantung niat pelakunya. Apabila pelaku berniat menyampaikan ajaran Allah (dakwah) dan semata-mata melaksnakan perintah Allah dan hanya mengharap pahala dan ridhaNya maka dianggap sebagai ibadah. Pelaku tidak peduli diberi upah atau tidak tetap melaksanakan tugas mengajarnya. Pendidik seperti ini berhak mendapat pahala di akhirat.

Dan apabila pelaku meniatkan aktivitasnya sebagai sebuah kegiatan transaksi dengan mengambil keuntungan duniawi, seperti upah maka termasuk wilayah muamalah duniawi. Transaksi seperti ini termasuk transaksi ijarah (menjual manfaat atau jasa). Pelaku menjual jasa mengajar dan pengguna memberi upah sesuai persyaratan yang disepakati. Pendidik seperti ini hanya mendapatkan upah duniawi. Untuk mendapat upah akhirat, pendidik perlu bekerja dengan jujur dan amanah agar mendapatkan imbalan atas kejujuran dan amanahnya itu.
Adapun pendidik yang meniatkan ibadah, diperbolehkan menerima upah tanpa berniat mencari upah. Pendidik seperti ini tidak terpengaruh dengan upah, diberi upah atau tidak, dia tetap mengajar.[7]

D.    Sikap Ikhlas Dalam Kehidupan Sehari-hari


Berdasarkan Q. S An Nisa ayat 146, perilaku ikhlas dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut:
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَٱعْتَصَمُوا بِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.


  1. Gemar melakukan perbuatan terpuji dan tidak dipamerkan kepada orang lain.
  2. Ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT. semata-mata hanya karenaNya.
  3. Tidak mengharapkan sanjungan atau pujian dari orang lain.
  4. Selalu berhati-hati dalam bertindak atau berperilaku.
  5. Tidak menghitung-hitung atau mengungkit-ngungkit kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain.[8]




Red -Itsn




==========================================
Sumber :

[1]  M. Abdul Qadir Abu Faris, Menyucikan Jiwa, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005) hal. 16.
[2] Sa’id Hawwa, Kajian Lengkap Penyucian Jiwa Tazkiyatun Nafs, ( Jakarta Selatan: Pena Pundi Aksara, 2006) hal. 342.
[3] Nasiruddin, Akhlak Pendidik (Upaya untuk membentuk Kompetensi Spiritual dan Sosial), (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015) hal. 19-21.
[4]Joko Suharto, Menuju Ketenangan Jiwa, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007) hal. 55.
[5]M. Abdul Qadir Abu Faris, Menyucikan Jiwa, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005) hal. 16-17.
[6]Muhammad bin Shalih Al-Munajjid, Silsilah Amalan Hati, ( Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), hlm. 21-23.
[7]Nasiruddin, Akhlak Pendidik (Upaya untuk membentuk Kompetensi Spiritual dan Sosial), (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015) hal.36-39.
[8] http://www.bacaanmadani.com/2018/02/contoh-perilaku-ikhlas-sabar-dan-pemaaf.html

No comments for "Apa sih Itu Ikhlas?"