Memuat…

Bahtera Rumah Tangga Zaid dan Zainab bin Haritsah




al Quran telah mengabadikan beberapa peristiwa sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar dan sebagainya. Namun, nama mereka tidak disebutkan secara langsung. Begitu dengan Zaid bin Haritsah, namanya telah disebut dengan jelas. Dari sinilah seluruh umat Muhammad untuk fokus mengambil pelajarannya.
Seperti yang telah tertera dalam Q. S. al Ahzab ayat 37, mengisahkan tentang peristiwa pernikahan sahabat Nabi yang diabadikan dalam al Quran.

وَاِذْ تَقُوْلُ لِلَّذِيْٓ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَاَنْعَمْتَ عَلَيْهِ اَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللّٰهَ وَتُخْفِيْ فِيْ نَفْسِكَ مَا اللّٰهُ مُبْدِيْهِ وَتَخْشَى النَّاسَۚ وَاللّٰهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشٰىهُۗ فَلَمَّا قَضٰى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًاۗ زَوَّجْنٰكَهَا لِكَيْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ حَرَجٌ فِيْٓ اَزْوَاجِ اَدْعِيَاۤىِٕهِمْ اِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًاۗ وَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ مَفْعُوْلًا

Artinya:
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang telah Allah limpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah. sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.
Dalam ayat tersebut yaitu tentang masalah keluarga. Urutan kisahnya dimulai dari ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ

Artinya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Para ulama tafsir dalam kitab-kitab tafsir mereka menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk peristiwa pernikahan Zaid dan Zainab. Zaid hanya mantan budak yang dinikahkan oleh Nabi dengan Zainab berketurunan terhormat Quraisy. Zinab adalah putri bibi Nabi sendiri.
Ibnu Katsir menukil dari tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari,
“Dari Ibnu Abbas: Firman Nya: (Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin), dimana bagi anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Beliau mendatangi Zainab binti Jahsy Al Asadiyah. Beliau melamarnya untuk Zaid."
Zainab berkata: Aku tidak mau menikah dengannya.
Rasul berkata: Menikahlah dengannya.
Zainab berkata: Ya Rasulullah, apakah aku harus melawan diriku sendiri? Ketika mereka berdua berbincang, turunlah ayat tersebut kepada Rasulullah.
Zainab pun berkata: Apakah engkau ridho dia menikahiku, Ya Rasulullah? 
Rasul menjawab: Ya
Zainab menjawab: kalau begitu aku tidak berani maksiat kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Engkau telah menikahkannya denganku.
Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa pernikahan tersebut bermahar: 10 dinar, 60 dirham, sebuah kerudung, satu selimut, sebuah baju besi, 50 mud makanan dan 10 mud kurma. Mahar tersebut setara dengan kalangan Quraisy. Rumah tangga pun berjalan selama kurang lebih satu tahun. Zaid mencoba untuk menjadi pemimpin rumah tangga, begitu pun dengan Zainab mencoba untuk menjadi istri. Mereka pasti saling mencoba untuk mendekatkan perbedaan yang terlalu jauh dan juga mempetahankan keluarganya. Namun, badai rumah tangga datang tak tertahankan. Zaid memendam bara dalam hati dan sudah berusaha untuk menyabarkan diri dalam masa penyesuaiannya setahun itu. Namun pada akhirnya meledak juga.
Al Alusy dalam tafsirnya juga menjelaskan,
"Zainab bin Jahsy berkarakter keras. Dia terus-menerus membanggakan kehormatan dirinya diatas Zaid. Zaid mendengar hal-hal yang tidak disukai darinya. Hingga pada suatu hari Zaid mendatangi Nabi Sallallahu alaihi wasallam dan berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya Zainab telah berlisan keras terhadapku dan aku ingin menceraikannya."
Dalam peristiwa tersebut sangat jelas bahwa ketidaksetaraan keturunan bisa menimbulkan masalah jika tidak mampu dilebur, sehingga berada dalam ambang keretakan. Namun, pernikahan dengan ketidaksetaraan tidak selalu gagal. Bahwa pernikahan yang tidak seimbang juga dapat dilangsungkan seperti kisah sahabat Nabi yaitu Julabib dengan keberuntungannya mendapatkan bidadari.
Adapun Zaid dan Zainab yang mengalami tragedi pernikahan karena ketidaksetaraan, masing-masing telah dihibur oleh Allah secara langsung. Zaid merasa sangat terhormat karena namanya menjadi satu-satunya sahabat Nabi yang diabadikan dalam al Quran. Sehingga mampu melupakan permasalahan yang menghantam bahtera hidupnya. Sedangkan Zainab pun telah dihibur oleh Allah dengan memerintahkan Nabi untuk menikahi Zainab. Sebuah kemuliaan siapapun yang dinikahi Rasulullah dan masuk dalam lingkungan ummahatul Mukminin.
Namun kita bukanlah Zaid ataupun Zainab yang langsung mendapatkan hiburan langsung dari Allah dari perihnya perpisahan karena ketidaksetaraan. Akan tetapi segera lakukan upaya maksimal untuk mendekatkan jurang perbedaan tersebut, agar hal-hal buruk tidak terjadi.
Membangun bahtera rumah tangga memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Didalamnya pasti terdapat berbagai masalah yang menghadang, lika-liku kehidupan yang harus dijalani bersama dalam mempertahankan rumah tangganya. Perbedaan itu pasti tetap ada dalam setiap manusia, tergantung bagaimana kita menyikapi perbedaan itu. Ketika kita selalu mempermasalahkan perbedaan itu maka semua akan menjadi rumit. Berbeda dengan ketika menerima perbedaan dari masing-masing dan saling melengkapi perbedaan tersebut maka terciptalah kesempurnaan.
Tetaplah menjadi insan yang saling menerima apa adanya. Kekurangan dan kelebihan akan membawa kita menuju sebuah kesempurnaan. Jika kita mampu berusaha untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihan tersebut.

0 Comments

Post a Comment