Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mencontoh perilaku sahabat Nabi; Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf adalah orang Bani Zuhrah. Dia berasal dari suku yang dihormati di Mekah. Abdurrahman juga termasuk delapan orang pertama yang masuk Islam. Gara-gara menjadi muslim, Ia disiksa kafir Quraisy. Namun, Abdurrahman bin Auf tetap sabar. 

Pada awalnya, Abdurrahmab hijrah ke Habsyah, Afrika. Kemudian ia hijrah ke Madinah. Harta bendanya di Mekah dirampas oleh kafir Quraisy. Namun, Ia selalu tabah dan tak putus asa. 

Di Madinah, Ia tinggal bersama Sa'ad bin Rabi'. Sa'ad berkata,"kita berdaudara karena agama. Aku akan menyerahka separuh hatiku. Terimalah!"

Tetapi Abdurrahman menolak. Beliau berkata, "tidak usah, terimakasih. Tunjukkan saja padaku dimana pasar." Abdurrahman bin Auf tak mau memberatkan sahabatnya. Beliau ingin berusaha sendiri. 

Sa'ad bin Rabi' menunjukkan pasar Madinah padanya. Abdurrahman memulai usaha dengan berjualan keju. Ternyata beliau sangat pandai berbisnis. Beliau pun memperoleh keuntungan yang besar. 

Abdurrahman adalah pedagang yang jujur. Para pembeli suka berbelanja padanya. Oleh sebab itu, bisnisnya selalu untung. Bahkan Rasulullah pun bangga dengannya dan memuji Abdurrahman, "dia jujur di bumi dan jujur di langit."

Abdurrahman mempunyai usaha yang bagus di Madinah. Kemudian beliau bersiap-siap hendak menikah. Suatu hari ia memakai wewangian. Rasulullah berkata, "alangkah harumnya dirimu!" 

"Aku hendak menikah, ya Rasulullah," jawab Abdurrahman. "Apa mahar yang akan kamu berikan?" tanya Rasulullah. Ia menjawab, "emas seberat biji kurma." 

Rasulullah menasihati, "adakanlah walimah! Meski hanya menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkahi pernikahanmu dan hartamu."

Abdurrahman turut serta berjihad. Pada perang badar, beliau ikut mengalahkan kaum kafir. Pada perang uhud, beliau pun juga berjuang habis-habisan. Abdurrahman melindungi Nabi dari serangan senjata musuh. Akibat perang, beliau mendapat sembilan luka parah, dan juga dua puluh luka-luka kecil di tubuhnya. 

Abdurrahman bin Auf adalah seorang yang dermawan dan pembela agama. Pernah pada saat itu, kaum muslimin Madinah diancam serangan musuh. Maka, Rasulullah menyiapkan pasukan menuju perang tabuk. 

Pasukan romawi sangat banyak dan bersenjata lengkap. Sementara itu, kaum muslimin sedang dalam keadaan kesulitan. Saat itu mim kemarau, sehingga kaum muslimin kekurangan makanan. Mereka hanya memiliki sedikit dana untuk berperang.

Pasukan Islam akan berangkat ke perang tabuk. Tapi beberapa pejuang mulim menangis. Mereka sedih tidak memiliki kendaraan untuk berangkat berperang. Padahal mereka juga ingin membela agama.

Rasulullah memberi saran kepada umat Islam untuk bersedekah. Membantu mereka yang hendak ikut berperang. Abdurrahman bin Auf menyambutnya dengan suka cita. Beliau menyumbangkan hampir seluruh hartanya. Abdurrahman menyedekahkan dua ratus uqiyah emas (5.950 gram).

Umar bin Khattab khawatir, karena sedekah yang dikeluarka oleh Abdurrahman sangat besar. Umar berkata kepada Rasul, "sepertinya Abdurrahman berdosa, karena ia tak menyisakan harta untuk keluarganya." 

Rasul pun bertanya, "apakah kamu menyisakan uang belanja untuk istrimu?" 

"Iya, aku memberi istriku belanja yang banyak. Lebih banyak harta yang kusumbangkan," jawab Abdurrahman bin Auf.

"Berapa jumlahnya?" Tanya Rasul. "Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah," jawab Abdurrahman. 

Begitulah kuatnya keimanan Abdurrahman. Beliau tidak takut banyak bersedekah. Sebab Allah akan memberinya pahala yang lebih besar. Dan keluargajyavakan mendapat rezeki yang banyak. 

Sumbangan Abdurrahman sangatlah bermanfaat. Sehingga, banyak kaum muslimin yang bisa ikut berperang. Abdurrahman pun ikut serta bertempur membela agama. Akhirnya, pada perang tabuk, umat islam pun menang.

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman mendapat tugas mulia. Beliau melindungi keselamatan dan kesejahteraan para istri Rasul. Abdurrahman memenuhi segala kebutuhan mereka. Terutama pakaian, makanan, dan keperluan harian. 

Istri-istri Nabi disebut Ummahatul mukminin, artinya ibu orang-orang beriman. Abdurrahman juga mengawal kepergian mereka. Misalnya, ketika para istri Rasul naik haji. Abdurrahman senantiasa menyertai dan melindungi mereka. 

Tentunya, tugas ini sangatlah mulia. Karena itulah pertanda bahwasanya Abdurrahman adalah seseorang yang sangat dipercaya. 

Seiring itu, perniagaan Abdurrahman semakin berkembang. Barang dagangannya terus menerus laris. Keuntungannya pun berlipat ganda. Beliau menjual gandum, tepung, dan minyak. Juga berbisnis pakaian, barang pecah belah, dan wangi-wangian. Kekayaan yang diperoleh Abdurrahman semakin memudahkannya untuk bersedekah. 

Pada suatu hari Abdurrahman membeli tanah luas. Harganya mencapai empat ribu dinar. Ia membagikan tanah itu untuk istri-istri Rasulullah. Saudara-saudaranya di Bani Zuhrah juga mendapatkan bagian. 

Aisyah, istri Rasulullah juga mendapatkan bagian hadiah tanah, "siapakah yang memberiku hadiah ini?" Utusan itu menjawab,  "Abdurrahman bin Auf." Aisyah sangat berterimakasih. Aisyah pun mendoakan agar rezeki Abdurrahman semakin bertambah.

Doa itu dikabulkan oleh Allah. Abdurrahman berdagang sampai ke luar negeri. Pulang berdagang, dia mwmbawa tujuh ratus ekor unta. Semuanya bermuatan penuh sandang, pangan, dan kebutuhan lainnya. Keuntungan dagangnya sangat luar biasa. 

Penduduk Madinah bersorak-sorai menyambut rombongan dagang. Mereka ikut bersyukur dengan keberhasilan Abdurrahman. Aisyah pun kaget, "suara hiruk-pikuk apakah itu?" 

Seseorang memberitahukan, "kabilah dagang Abdurrahman baru saja pulang. Dia membawa keuntungan yang sangat besar."

Aisyah mendoakan keberkahan untuk Abdurrahman. Aisyah pernah mendengar ucapan Rasul, "surga sudah dekat dengan Abdurrahman. Karena, ia kaya dan sangat pemurah." 

Abdurrahman bergegas menemui Aisyah. Is bertanya, "wahai Ibu, benarkah itu perkataan Rasulullah?" "Ya, saya mendengarnya sendiri," jawab Aisyah. 

Abdurrahman pun sangat bahagia. Baginya surga adalah nikmat yang terbesar. Harta dunia tidaklah seberapa dibandingkan surga. Ia pun berkata, "saksikanlah wahai Ibu! Seluruh keuntungan dagang, aku sedekahkan untuk agama."

Abdurrahman tidak rakus dengan jabatan. Tapi beliau pandai memilih pemimpin yang cakap. Khalifah Abu Bakar ingin penggantinya adalah Umar bin Khattab. Ia pun minta persetujuan Abdurrahman bin Auf. Itu membuktikan bahwa beliau sangat dipercaya. 

Suatu ketika umat Islam menang dari musuh-musuh Allah. Sehingga mendapat harta rampasan perang. Harta yang sangat banyak itu dikumpulkan di masjid. Khalifah Umar memilih penjaga yang terpercaya. Abdurrahman bin Auf bertugas menjaganya. Sebab beliau adalah seseorang yang jujur dan dapat dipercaya. Setelah itu, barulah harta dibagikan untuk rakyat. 

Pernah terjadi suatu wabah penyakit berbahaya di Syam. Khalifah Umar dan sahabat lainnya kebingungan. Mereka khawatir penyakit tersebut akan menyebar luas. Apa jalan keluarnya?

pada situasi yang genting itu, Abdurrahman bin Auf datang. Beliau memberi petunjuk, bahwasanya beliau ingat resep karantina dari Nabi. Jika ada wabah di suatu kota, janganlah masuk ke dalamnya. Sedangkan penduduk di dalam kota tersebut, tak boleh keluar. 

Syukurlah Abdurrahman masih ingat pesan Nabi. Sehingga wabah penyakit itu tidak menyebar. Bahkan dapat diatasi dengan baik. Abdurrahman sering terdepan dalam berderma. Ia pernah menyedekahkan 40.000 dirham perak. Lalu menyumbangkan juga 40.000 dinar emas. Setelah itu, bersedekah lagi 200 uqiyah emas. Kemudian menyerahkan 500 ekor kuda untuk pejuang Islam. Sesudah itu, Beliau mneyumbangkan 1.500 ekor unta lagi.

Dengan banyak bersedekah, kekayaan tidak berkurang, justru akan semakin bertambah. Sebab, Allah menambah rezeki orang yang suka bersedekah. Meski kaya, beliau tetap hidup sederhana. Beliau pun tidak membeda-bedakan teman. Abdurrahman menghormati orang kaya maupun miskin.

Menjelang wafat, Abdurrahmah memerdekakan budak-budaknya. Dia membuat wasiat untuk pahlawan perang Badar. Setiap mereka mendapatkan empat ratus dinar emas. Padahal saat itu, pejuang badar masih hidup seratus orang. Tak lupa beliau juga memberikan harta-hartanya untuk para istri Nabi.

Ternyata Abdurrahman benar-benar sangat kaya. Meskipun hartanya telah dibagi-bagikan, namun masih bersisa untuk keluarganya. Dia meninggalkan seribu ekor unta. Masih ada seratus ekor kuda. Tak ketinggalan tiga ribu ekor kambing, juga emas dan perak yang banyak. Semuanya dibagikan secara adil oleh Abdurrahman bin Auf. 

Begitulah kisah Abdurrahman bin Auf yang memiliki sifat sangat dermawan, banyak bersedekah, dan dapat dipercaya. Bahkan setelah Rasul wafat, beliau mendapat tugas yang sangat mulia dari Nabi untuk memenuhi kebutuhan istri-istri para Nabi.     

Semoga kita bisa mencontoh perilaku sahabat Nabi, yang suka bersedekah, dermawan, dan juga dapat dipercaya. 

Post a Comment for "Mencontoh perilaku sahabat Nabi; Abdurrahman bin Auf"